dindasudibya's
about mine stuff link home skins twitter tumblr follow blogskins
cerpen gila -- buatan saia :}
Saturday, March 7, 2009 | 5:51 PM | 0 comments

kauant2 , ni adalah cerpen buataanq pas sd kelas 6 :)

hho, marii dbacaaa xD

The Airplane

when you're friend can't beside you anymore

Aku punya seorang sahabat yang namanya Patty, dialah sahabat terbaik sepanjang hidupku. Saat tertawa, marah, konyol, mengharukan ataupun menakutkan, Pattylah yang selalu setia menemaniku, menghiburku dan menceritakan berbagai pengalamannya. Tapi hal yang paling menyakitkan yang harus kuterima adalah aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya atau menceritakan suka dukaku padanya untuk selamanya, aku sangat terpukul akan hal ini….

Peristiwa menyakitkan itu terjadi seminggu sebelum ulang tahunnya. Padahal, kemarin ia tertawa – tawa bersamaku karena sama – sama mendapat nilai C saat aljabar...dan, baru saja ia mengatakan ingin memiliki pesawat yang ada di toko mainan…padahal, baru saja aku dan Patty makan siang dan bergidik ngeri dengan Ms. Vivian yang galak dan suka menghukum kami,…karena kami hobii sekali mengacaukan urutan absent sehingga saat kami bolos, tak ketahuan :D, serta kami tak pernah menghapus papan tulis saat piket...kami selalu menghabiskan waktu bersama, sahabat super kompak!

Tapi, tiba – tiba saja ia berkata, ia tak akan bisa bertahan lagi, karena ia mengidap penyakit Leukimia ganas. Aku ternganga, seakan tak percaya…aku merasa dibohongi selama ini! Saking sedihnya, aku tidak mau bertatapan wajah dengannya! Senyumku yang ceria lenyap…tanpa pikir panjang, aku meninggalkan Patty sendirian. Baruu beberapa menit lalu ia tegelak dan tersenyum ceria padaku, kenapa begitu mudah ia mempengaruhi keadaan emosiku? Haah… Patty… aku jadi merasa bersalah padamu.

Tiga hari lamanya aku tidak mau berkata apapun atau bertatapan sekilas dengannya. Namun, ketika siang hari, aku menerima telepon dari ibunya, bahwa keadaan Patty kritis, Patty baru saja masuk Rumah sakit tadi pagi setelah pingsan berulang kali. Tanpa memikirkan pakaian apa yang kupakai, aku segera berlari ke garasi, dan dengan sekuat tenaga kukayuh sepedaku. Sesampainya di rumah sakit, aku mencari kamar Patty. Keadaan Patty sangat kritis, ia terbaring lemah di tempat tidur, dan tak punya tenaga untuk berbicara. Tiba – tiba, rasa malu menyerangku! Aku menjenguk Patty tanpa membawa oleh – oleh!

Kumasukkan jemari tanganku ke dalam jaket. Aku merogoh – rogoh, sepertinya ada sesuatu di jaketku! Sebuah dompet polkadot yang kukira hilang muncul kembali. Aha! Uang tahun baru simpananku dulu ada di dalamnya. Tanpa ragu aku membeli bunga lili merah di dekat rumah sakit, dan sebungkus cokelat kesukaan Patty, serta buah kesukaan Patty, yaitu sekotak stroberi merah yang mungkin bisa menggembirakan hatinya.

Kuletakkan oleh – oleh itu di meja kecil disamping Patty yang terbaring di tempat tidur. Mata Patty tiba – tiba terbuka, wajahnya nampak jauh lebih cerah, “Nerry? Kaukah i!tu? Wah, aku senaang sekali ” Patty berseru dengan terengah – engah, suaranya tidak senyaring dulu., sinar matanya yang dulu berbinar-binar kini nampak meredup, suaranya terdengar lemah, dengan mata birunya yang biasanya selalu gemerlap, kini memandangku sayu, penuh harap…Patty, jangan begitu, aku jadi sedih melihat keadaanmu, aku takut jika kamu benar-benar tidak bisa ‘bertahan lagi’, Tuhan, kumohon, sembuhkanlah Patty dari penyakitnya itu…

“Patty, maafkan aku, selama ini, aku egois, apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?” tanyaku sedih, ”Yah...Kamu harus membuatkanku pesawat modell impianku! Tapi kau tidak boleh membeli, kau harus membuatnya sendiri!” sahutnya masih dengan terengah – engah. “Baiklah, besok aku kemari lagi, aku akan membuatnya satu per satu!” sahutku mantap. Aku rela, jika itu demi Patty, sahabatku.

Semenjak hari itu, aku selalu menyusun pesawat terbang dengan gradiasi warna putih dan biru favorit Patty. Aku selalu menceritakan dan menghibur Patty agar ia mempunyai semangat untuk sehat kembali. Aku selalu berusaha ikut hadir dalam dirinya, seolah menyemangati dirinya, agar tidak berpandangan buruk atau merasa hidupnya akan berhenti hingga saat ini. Aku yakin, pasti Tuhan akan mengabulkan keinginan Patty. Rasa optimis sudah menguasaiku!! Yup, Patty pastiii sembuuh!! Aku yakin itu!!

Tapi, ternyata itu hanya dugaan belaka….Seminggu sebelum Ia berulangtahun, dan sehari sebelum aku menyelesaikan bagian cat akrilik pada pesawat…Patty sudah meninggalkanku untuk selamanya. Saat itu aku menangis keras-keras, sampai mau pingsan rasanya. Padahal aku sudah yakin sekali Ia pasti sembuh, Patty sudah mendapatkan transplantasi…tapi mengapa Ia harus pergi? Aku begitu menyayanginya layaknya saudaraku sendiri, Tuhan, mengapa kau rampas Patty?

Patty, kamu jahat! Kamu meninggalkan aku sebelum aku menyelesaikan pesawat impianmu! Patty, kemanapun kucari, takkan pernah lagi ada sosok sahabat sepertimu, sahabat yang mau mengerti bagaimana sebenarnya diriku, termasuk mengerti bagian diriku yang bahkan tidak dimengerti orangtuaku, dan juga tidak kumengerti sendiri, menghargai sebagaimana adanya diriku....Patty, kamu terlalu jahat, kamu adalah sebuah kenangan yang terlalu indah, terlalu sempurna untuk dilukiskan. Aku yakin, walaupun kamu sudah pergi ke surga, di dalam diriku, pasti ada dirimu...Patty, kita ini sahabat sejak lahir, bahkan aku sudah menganggapmu kakakku sendiri, kakak yang bersedia kuhormati dan menghormatiku.

Bertahun – tahun semenjak saat itu, aku tetap mengunjungi makam Patty. Mengucap syukur, doa dan ceritaku selama saat itu. Walaupun kini aku sudah banyak memiliki sahabat baru, Aku tak bisa melupakan PATTY!! Tak pernah kujumpai sahabat seperti Patty, sahabat sehidup_sematiku, sahabat soulmateku.

Seorang sahabat yang bisa kujadikan kakak, adik, dan juga panutan, Patty, hatiku sakiittt...sakitt sekali! Jauh lebih sakit daripada saat aku jatuh dari tangga, jauh lebih sakit daripada saat aku ditampar, dipukul ataupun dihukum. Hatiku selalu dipenuhi bayang-bayang Patty, apalagi saat memandangi pesawat setengah jadi yang tak sanggup kuselesaikan, karena hanya Patty yang terbayang di hatiku jika memandang pesawat itu. Patty, kenapa kamu harus pergi? Kenapa harus kamu?? Kenapa Tuhan mengambil sahabatku yang paling memahamiku yang bahkan aku sendiri terkadang tak bisa memahami maksud hatiku sebenarnya...Patty, kamu selalu memaafkanku sebelum aku bisa memaafkan kesalahan diriku.

Karena terlalu terbawa pikiran, akupun ingin berkonsultasi dengan sahabat lamaku, yang kini sudah bekerja, setelah mendapatkan nomor teleponnya, akupun segera menghubunginya dengan penuh harap, aku ingin segera bisa melakukan suatu hal agar aku bisa menyelesaikan masalahku saat ini. ”Hai Nerry, lama tidak bertemu setelah reunian setahun lalu!” sahut sahabatku ramah, ketika aku mencoba menghubunginya.

Dan akupun tidak segan-segan menceritakan perasaanku, dan apa yang ada di benakku saat itu, kurasa ia bisa mengerti diriku, karena kini ia sudah bekerja menjadi seorang psikiater. ”Hm, menurutku lebih baik kamu ikut kegiatan yang kurekomendasikan ini, semoga kamu bisa lebih tenang, Nerry. Datanglah hari minggu ini, ada temanku disana, ini alamatnya” Itulah jawaban yang kuperoleh dari sahabat lamaku. Aku tidak tahu apa modus maupun tujuan pelaksanaan kegiatan itu, tapi kurasa itu suatu kegiatan positif, akan kucoba!

Hari Minggu, betapa terkejut hatiku, ternyata tempat yang kutuju adalah sebuah sekolah rumah sakit, sekolah itu khusus bagi murid-murid yang memiliki berbagai macam penyakit, seperti kesusahan belajar atau sering disebut A.D.D./ L.P, dan juga ada anak yang menderita penyakit Leukimia seperti Patty. ”Halo, anda Nerry Houston? Aku guru yang mengajar disini, perkenalkan, aku Tera McGouth” sahut seorang perempuan yang umurnya kira-kira sepantaran diriku. ”Oh, hai, salam kenal juga” sahutku mencoba seramah mungkin.

”Baiklah, sahabat anda sudah menceritakan masalah anda pada saya, saya akan berusaha membantu anda sebisa mungkin. Ada yang ingin ditanyakan?” sahut Tera padaku sambil tersenyum ramah. ”Em...yang saya bingungkan, mengapa mereka masih santai-santai dan gembira, padahal penyakit mereka cukup berat?” tanyaku takjub memperhatikan anak-anak tersebut masih bisa tertawa, menggambar, membaca buku, bermain di taman, bahkan mereka tetap bersekolah, dengan perasaan tulus layaknya anak-anak biasa.

”Nah, itulah tujuan dibuatnya rumah sakit ini, sehingga anak-anak ini bisa tetap menikmati hidupnya seperti layaknya anak-anak normal. Kalau tidak berpandangan maju, mana mungkin bisa hidup bahagia kan?” jawab Guru muda itu sambil tetap tersenyum. Aku tambah takjub mendengar jawabannya, benar-benar hebat. Belum sempat aku melontarkan pertanyaan dan kesan, Tera berbicara lembut padaku sambil menatap sekelilingnya.

”Akupun dulu pernah mengalami hal pahit yang berhubungan dengan kesehatan kakak permpuanku, Sherry McGouth. Dia adalah seorang kakak yang baik, walaupun memiliki sebuah penyakit masokis, atau suka menyakiti diri sendiri” sahut Tera menerawang. ”Kalau aku boleh tahu, ada apa dengannya?” selaku cepat.

”Dia kabur dari rumah saat aku masih kecil. Karena aku terlalu menyayanginya, orang-orang di sekelilingku mati-matian menyembunyikan fakta yang sebenarnya, dan berbohong demi kebaikanku. Menjelang natal, aku yakin ia pasti pulang, karena biasanya ia selalu membuatkanku kue natal. Tapi, aku bermimpi bahwa ia mengajakku ke suatu tempat yang indah, yang dihiasi pelangi besar. Ia minta maaf padaku, dan bilang ia tak bisa kembali, ia sudah mendapatkan tempatnya, dan akupun merelakannya” sahut Tera terdiam, dan memegang lehernya pelan.

”Ia tinggal di tempat seperti ini, yang dikelola seorang nenek berwajah ramah, yang mungkin dapat mengerti semua isi hatinya, namun, ada peristiwa yang kusesalkan” sahut Tera. ”Kenapa?” tanyaku penasaran. ”Ia ingin membawakanku hadiah, dan ingin mampir ke rumah sebentar, Ternyata ia...ia kecelakaan dan meninggal” sahut Tera sendu, namun dengan cepat ia kendalikan perasaannya. Aku mengerti perasaannya, hati yang serasa tercabik-cabik karena kehilangan seseorang yang disayangi dan dicintai dengan sepenuh hati, terlalu menyayanginya.

”Tapi, apabila aku sedih terus menerus, itu tidak baik untuk diriku dan juga Sherry, Sherry akan selalu mengkhawatirkanku di surga, jadi, kini aku ingin mewujudkan mimpiku, menjadi orang yang menangani bagian anak-anak seperti Sherry” sahut Tera pelan. Kupandang wajah Tera, dan aku merasa ada wajah Patty disana, maaf, aku tidak bisa setegar Tera, Patty...Patty adalah sahabat terbaik untukku, tak bisa tergantikan oleh siapapun, dia mengerti diriku, seperti aku mengerti dirinya. Itulah sahabat.

Namun, aku mengikuti nasihat Tera, untuk membantu anak-anak bermasalah, selama 2 minggu aku disana, ada banyak anak yang sudah kuakrabi, dan semua memiliki impian masing-masing, serta tekad kuat untuk sembuh, seperti Patty. Aku jadi bisa memandang hidup lebih positif, dan tidak berlarut-larut dalam penyesalan terhadap Patty, karena kutahu, walau aku menangis, marah, atau menyesal seperti apapun, Patty tak akan mungkin kembali. Akhirnya, setelah selesai mengalami rehabilitasi singkat disana, aku bisa hidup normal kembali, tanpa pesimis sedikitpun, karena walaupun Patty tidak pernah ada disampingku, kurasa nasihat-nasihat Patty selamanya akan ada dihatiku, selalu mendampingiku, agar aku tak menempuh jalan yang salah. ”Hai, Nerry! Sedang apa kamu?” tanya Tera padaku. ”Menulis surat untuk Patty, yah sekedar curhat, untuk mengatakan keadaanku disini baik-baik saja!” jawab Patty mantap. Mendengar jawabanku, Tera tersenyum manis.

*****

dinda paramaningtyas sudibya, 2008

Labels: , ,